Tumpang Tindih Regulasi Hambat Produksi Migas Riau

Posted by devhe

Pekanbaru - Kepala Perwakilan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Wilayah Sumatera Bagian Utara, Baris Sitorus, menyatakan tumpang tindih antara regulasi kehutanan dan pertambangan telah menghambat peningkatan produksi migas Provinsi Riau.

"Itulah, aturan kehutanan dan pertambangan yang tidak sinkron jadi penghambat, padahal pemerintah menginginkan produksi migas terus ditambah," kata Baris ketika dihubungi dari Pekanbaru, Minggu.

Ia memaparkan, tumpang tindih regulasi tersebut menghambat proses eksploitasi minyak Kondur Petroleum SA di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Beroperasinya perusahaan yang berafiliasi dengan Grup Bakrie itu menuai protes karena belum memiliki izin pelepasan kawasan hutan.

Menurut dia, BP Migas tak bisa menghentikan operasional Kondur karena dinilai sudah sesuai dengan peraturan pertambangan yang ada sebelum peraturan kehutanan diterbitkan pemerintah.

Bahkan, jauh sebelum peraturan kehutanan dikeluarkan tahun 2009, Baris mengatakan telah ada perusahaan asing yang mengeksplorasi minyak di kawasan itu sebelum akhirnya dibeli oleh Kondur.

"Mereka sudah lebih dahulu di sana dan tanah juga sudah diganti rugi. Yang jadi masalah adalah kejelasan apakah peraturan kehutanan itu berlaku surut bagi kontraktor migas yang sudah lama ada," ujarnya.

Ia mengatakan, masalah di Pulau Padang makin rumit karena konsesi Kondur juga tumpang tindih dengan konsesi kebun akasia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan untuk PT Riau Pulp.

"Wilayah kerja Kondur juga tumpang tindih dengan Riau Pulp, dan makin banyak kepentingan lain yang masuk di dalamnya," ujar Baris.

Ia menambahkan, masalah tumpang tindih regulasi juga menjadi kendala PT Sumatera Persada Energi (SPE) untuk dapat mengelola blok minyak West Kampar, tepatnya dalam proses pembukaan sumur Pengendalian di Kabupaten Rohul. Tumpang tindih regulasi pertambangan dan perkebunan telah membuat perusahaan terpaksa menunda jadwal eksploitasi yang sebelumnya ditargetkan pada 1 April.

Hambatan produksi tersebut, lanjutnya, diprediksi bakal terus menghambat pencapaian produksi minyak tahun 2011 yang ditargetkan mencapai 970 ribu barel per hari.(ant)

Related Posts

No comments:

Leave a Reply

Copyright © 2012, Dumai Network Online Allrights Reserved - Magazine World Theme - Designed by Uong Jowo